mysimpleblog

Tuesday, December 26, 2006

Jakarta Oh Jakarta

Ada yang mengistilahkan Jakarta sebagai wannabe modern metropolis... hmmm...

Kota ini emang kota yang campur-aduk.. kadang kepengen banget kelihatan modern, tapi seringkali yang kelihatan malah sisi primitifnya. Kok bisa? Coba lihat sekeliling kita..

Masih banyak orang nggak punya tempat tinggal tetap yang layak sampai-sampai mereka bangun rumah dimanapun ada tempat yang kosong, berjubel-jubel & berdempet-dempet di gang-gang sempit sekitar Jakarta. Contohnya Tebet. Luas banget emang.. dari rumah mewah, rumah sederhana sampe rumah seadanya juga ada. Nama jalannya juga udah sampe pake romawi & alphabet IIA,VB,XC,XVID, dst.. saking banyanyaknya itu gang2 di sana. Itu baru contoh satu daerah. Belom lagi daerah2 yang emang berlimpah dengan rumah seadanya itu. Rumah yang emang benar2 difungsikan hanya sebagai tempat berteduh.
Tapi Jakarta juga punya banyak apartment/residence/town houses/hotel yang sangat layak, bahkan bisa dibilang eksklusif.


Kadang-kadang sempat berfikir juga sih.. apa perasaan orang-orang yang menetap di tempat tinggal yang ekslusif ini kalo pas ngelewatin daerah perumahan yang dempet-dempet ini ya.. atau sebaliknya, pikiran seperti apa yang terlintas di dalam otak mereka yang tinggal di gang-gang sempit ini kalo pas mampir ke daerah ekslusif. Kira-kira lebih sering yang mana ngelewatin yang mana ya? ...hmmm....

Jakarta punya jenis transportasi yang lumayan masih baru, transjakarta, atau lebih dikenal dengan busway (kalo orang jawa bilang bis-wae, bukan yang lain-lain, tapi cuma bis aja, bis tok, titik). Bus way ini sempet bikin kontroversi, pro & kontra.. tapi sang gubernur (bukan sang kancil-kekekek) keukeuh-petekeuh-cutkeke-innekekoesherawati.. mungkin katanya apapun yang terjadi, "the show must go on!" Sudah dibuktikan kok, dengan banyaknya jalur2 baru busway yang udah dirilis & dipakai oleh sebagian besar warga commuters Jakarta.

Sebentar lagi Jakarta juga akan punya monorail. Tapi di samping itu, bis butut yang pasti sumpek pada jam-jam padat & akan memberikan kontribusi polusi di Jakarta juga tetep akan ada & makin bertambah keruh. Ditambah jenis angkot, mikrolet, dll yang bikin macet jalanan Jakarta. Belom lagi ada bajaj, bemo, atau juga kancil, dll yang nambah kebisingan Jakarta. Motor juga ada di mana-mana, sebagai ojek atau sebagai kendaraan pribadi. Susah ngebedainnya kalo udah nyatu di jalanan. Nah, yang paling banyak dari semua itu adalah mobil-mobil pribadi. ...hmmm... mungkinkan mobil2 pribadi ini dibatasi oleh pemerintah? Ini masih jadi polemik & PR buat kita semua. Gimana caranya mengatasi problem macet yang udah puluhan tahun berlangsung.. ataukah ini sebagai salah satu budaya tradisi Jakarta.. yang kalo nggak macet, ya tandanya bukan Jakarta. Argh.

Salah satu Jakarta guides, menyebutkan bahwa untuk mengenal Jakarta lebih dekat, kita harus mingle dengan masyarakatnya.. (masyarakat yang mana?) Main2lah ke pasar tradisional Kebayoran Lama, area seputaran Glodok, galeri2 Kemang, pasar kain di Pasar Baru. Jangan lupa berkunjung ke Taman Mini.. kekekekeeekkk... Berapa banyak anak muda Jakarta yang dengan kesadarannya sendiri (bukan karena study tour dari sekolah) mau berkunjung ke TMII? Berdasarkan pengalaman pribadi, baru mau masuk ke sana aja harus bayar, belum jauhnya, trus fasilitasnya nggak bagus2 amat karena nggak dirawat baik. Nggak heran kalo kebanyakan anak muda Jakarta lebih milih maen2 ke mal2 yang lebih adem, nggak jauh2 amat (lha wong skarang mal ada di mana2). Tapi pengalaman pergi ke TMII dengan pengalaman pergi ke mal pasti jauh berbeda. Karena terlalu banyak hal yang kurang sesuai dengan keinginan kita, biasanya pengalaman itu akan lebih lama bertahan dalam memori. Nah itu yang terjadi dengan pengalaman pergi ke TMII. Nggak hilang sampe tujuh turunan... ahahahhahaaaa...

Menurutku, yang paling susah untuk dilupakan dari Jakarta (selain macetnya of course) adalah banyaknya warung2 rokok (yang tentu aja nggak cuma jualan rokok) di pinggir jalan, anak2 asongan di lampu2 merah & para pengemis yang ada di mana aja (terutama pas hari Jumat). Kira2 Bapak / Ibu Gubernur Jakarta yang baru nanti bisa membenahi Jakarta ini nggak ya? Buatku, si Gubernur mau dari Betawi asli kek, Jawa kek, Ambon kek, dari manapun dia berasal, yang penting dia bisa memberdayakan & mengelola Jakarta dengan sebaik2nya, bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan masyarakat Jakarta (masyarakat yang manapun juga yang tinggal di Jakarta), tua-muda, kaya-miskin, pendatang-asli, pejabat-rakyat jelata, pokoknya semua kelas masyarakatlah. Mudah-mudahan. Semoga. Amin.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home